Be Thankful

Abi August 23rd, 2010

Yes, indeed – we should all count our blessings before claiming that the world is unfair.


Satu Perempat Hak Ayahmu

Abi August 17th, 2010

[Entri kali ini adalah petikan yang telah diubahsuai daripada teks asalnya di Facebook dan beberapa laman blog seperti ini.]

Ibumu … ibumu … ibumu … kemudian ayahmu.

Anakku, jadilah wanita solehah

Wahai anak-anakku, peliharalah dirimu dan jadilah anak solehah

Biasanya, bagi seorang anak perempuan yang sudah dewasa, sama ada yang sedang bekerja di perantauan, yang sedang mengikuti suaminya merantau di luar kota atau luar negeri, yang sedang bersekolah atau mengikuti kuliah jauh dari kedua orang tuanya – mereka akan sering merasa rindu sekali dengan ibu mereka … lalu bagaimana dengan ayah?

Mungkin ini kerana ibu lebih sering menelefon untuk bertanyakan keadaanmu setiap hari. Tapi tahukah kamu, ayahlah yang mengingatkan ibu untuk menelefonmu?

Mungkin dulu sewaktu kamu kecil, ibulah yang sering mengajakmu bercerita atau berdongeng. Tapi tahukah kamu, bahawa sekembalinya ayah dari bekerja, dengan wajah lelah, ayah selalu bertanya pada ibu tentang khabarmu dan apa yang kau lakukan seharian?

Pada saat dirimu masih seorang anak perempuan kecil. Ayah biasanya mengajar puteri kecilnya menaiki basikal. Setelah ayah mengganggap kamu sudah boleh menunggangnya, ayah akan melepaskan roda bantuan pada basikalmu. Kemudian ibu berkata: “Jangan dulu ayahnya, jangan ditanggalkan dulu roda bantuannya”, itu kerana ibu takut puteri manisnya akan terjatuh lalu terluka….

Tapi sedarkah kamu? Ayah dengan yakin membiarkanmu, menatapmu, dan menjagamu mengayuh basikal dengan saksama kerana dia tahu puteri kecilnya pasti mampu melakukannya.

Anakku, peganglah pada nasihat ibu dan ayahmu

Anakku, peganglah pada nasihat ibu dan ayahmu

Pada saat kamu menangis dan merengek meminta alat permainan yang baru, ibu menatapmu hiba.
Tetapi ayah akan mengatakan dengan tegas : “Boleh, kita beli nanti, tapi tidak sekarang”
Tahukah kamu, ayah melakukan itu kerana ayah tidak ingin kamu menjadi anak yang manja dengan semua tuntutan yang selalu dapat dipenuhi.

Saat kamu ditimpa sakit , ayahlah yang terlalu risau hingga sedikit membentak dengan berkata : “Sudah diberitahu! Kamu jangan minum air sejuk!”.
Berbeza dengan ibu yang memperhatikan dan menasihatimu dengan lembut. Ketahuilah, saat itu ayah benar-benar mengkhuatirkan keadaanmu.

Ketika kamu sudah beranjak muda remaja..Kamu mulai menuntut pada ayah untuk mendapat keizinan keluar malam, dan ayah bersikap tegas dan mengatakan: “Tidak boleh!”.
Tahukah kamu, bahawa ayah melakukan itu untuk menjagamu? Bagi ayah, kamu adalah sesuatu yang sangat – sangat luar biasa lagi berharga. Setelah itu kamu marah pada ayah, dan masuk ke kamar sambil membanting pintu.

Kemudian yang datang mengetuk pintu dan memujukmu agar tidak marah adalah ayah. Tahukah kamu, bahawa saat itu ayah memejamkan matanya dan menahan gejolak dalam batinnya, bahawa ayah sangat ingin mengikuti keinginanmu, tetapi lagi-lagi dia HARUS menjagamu?

Ketika saat seorang teman lelaki mulai sering menelefonmu, atau datang ke rumah untuk menemuimu, ayah akan memasang wajah paling cool sedunia. Ayah sesekali menguping atau mengintip saat kamu sedang berbual berdua di ruang tamu. Sedarkah kamu, kalau hati ayah merasa cemburu?

Saat kamu mula lebih dipercayai, dan ayah melonggarkan sedikit peraturan untuk keluar rumah untukmu, kamu akan memaksa untuk melanggar jam malamnya. Maka yang dilakukan ayah adalah duduk di ruang tamu, dan menunggumu pulang dengan hati yang sangat risau dan bimbang. Perasaan risau itu berlarut – larut. Ketika melihat puteri kecilnya pulang larut malam, hati ayah akan mengeras dan memarahimu. Sedarkah kamu, bahawa ini kerana hal yang sangat ditakuti ayah akan segera datang? “Bahwa puteri kecilnya akan segera pergi meninggalkannya”

Wahai anak-anakku, mengertikah kamu andai ayah pernah menangis untukmu?

Wahai anak-anakku, mengertikah kamu andai ayah pernah menangis untukmu?

Setelah lulus SPM, Ayah akan sedikit memaksamu untuk menjadi seorang Doktor atau Engineer. Ketahuilah, bahawa seluruh paksaan yang dilakukan ayah itu semata – mata hanya kerana memikirkan masa depanmu nanti. Tapi ayah tetap tersenyum dan menyokongmu saat pilihanmu tidak sesuai dengan keinginan ayah.

Ketika kamu menjadi gadis dewasa.dan kamu harus pergi kuliah di kota lain, ayah harus melepaskanmu ke sana. Tahukah kamu bahawa badan ayah terasa kaku untuk memelukmu? Ayah hanya tersenyum sambil memberi nasihat itu dan ini, dan menyuruhmu untuk berhati-hati. Padahal ayah ingin sekali menangis seperti ibu dan memelukmu erat-erat.Yang ayah lakukan hanya menghapus sedikit air mata di sudut matanya, dan menepuk pundakmu berkata “Jaga dirimu baik-baik ya sayang”. Ayah melakukan itu semua agar kamu KUAT….kuat untuk pergi dan menjadi dewasa.

Disaat kamu kesempitan wang untuk membiayai perbelanjaan semester dan kehidupanmu, orang pertama yang mengerutkan kening adalah ayah. Ayah pasti berusaha keras mencari jalan agar anaknya boleh berasa sama dengan teman-temannya yang lain. Ketika permintaanmu bukan lagi sekadar meminta alat permainan yang baru, dan ayah tahu ia tidak mampu memberikan apa yang kamu inginkan, kata-kata yang keluar dari mulut Ayah adalah : “Tidak…. Tidak boleh!”
Padahal dalam batin Ayah, ia sangat ingin mengatakan: “Ya sayang, nanti ayah belikan untukmu”.
Tahukah kamu bahwa pada saat itu Ayah berasa gagal membuat anaknya tersenyum?

Saat kamu berjaya sebagai seorang sarjana. Ayah adalah orang pertama yang berdiri dan memberi tepuk tangan untukmu. Ayah akan tersenyum dengan bangga dan puas melihat “puteri kecilnya yang tidak manja berhasil tumbuh dewasa, dan telah menjadi seseorang”.

Sampai saat teman lelakimu datang ke rumah dan meminta izin pada ayah untuk mengambilmu darinya, ayah akan sangat berhati-hati memberikan izin … kerana ayah tahu … bahawa lelaki itulah yang akan menggantikan nanti.

Dan akhirnya….

Saat ayah melihatmu duduk di kerusi pelaminan bersama seseorang lelaki yang dianggapnya mampu menggantikannya, ayah pun tersenyum bahagia. Apakah kamu tahu, di hari yang bahagia itu ayah pergi ke belakang pentas pelaminan sebentar, dan menangis? Ayah menangis kerana ayah sangat bahagia, kemudian ayah berdoa … dalam lirih doanya kepada Tuhan, Ayah berkata: “Ya Allah tugasku telah selesai dengan baik … puteri kecilku yang lucu dan ku cintai telah menjadi wanita solehah yang cantik … bahagiakanlah dia bersama suaminya … rahmatilah kehidupan mereka Ya Allah”

Setelah itu Ayah hanya mampu menunggu kedatanganmu bersama cucu-cucunya yang sesekali datang untuk menjenguk. Dengan rambut yang telah gugur dan semakin memutih, serta lengan yang tidak lagi kuat untuk menjagamu daripada bahaya, ayah telah menyelesaikan tugasnya. Papa, Ayah, Bapak, atau Abah kita adalah sosok yang harus selalu terlihat kuat. Bahkan ketika dia tidak kuat untuk tidak menangis. Dia harus terlihat tegas walaupun saat dia ingin memanjakanmu. Dia adalah yang orang pertama yang selalu yakin bahwa “KAMU MAMPU” dalam segala hal.

Banyak hal yang mungkin tidak bisa dikatakan Ayah / Bapak / Papa kita … tapi setidaknya kini kita mengerti apa yang tersembunyi dibalik hatinya.

Terima kasih ayah atas segalanya. Buat sahabat-sahabat yang sudah bergelar bapa, jagalah anak-anakmu dengan baik. Semoga Allah merahmati kalian. Amiin.

Wallahu a’alam.

New Baby On Board

Abi August 3rd, 2010

Baby picture 1

Baby Picture 1.

August 2, 2010 (approximately 6:00 pm)

Almost an hour or so after our cute second daughter’s birth, I went down to the hospital’s surau – only to realise that my eyes were beginning to well up.

“So, that was it,” I told myself.

Having witnessed a normal delivery for the first time, I can only sum up that I know not even close to a quarter of my wife’s pain, or probably a fifth, or a sixth, or a seventh, and so on. Tears trickled. Only now did I begin to fully embrace the meaning of syurga itu di bawah telapak kaki ibu.

Baby picture 2

Baby picture 2.

Baby picture 3

Baby Picture 3.

Baby picture 4

Baby picture 4

That’s all for now. A bit occupied at the moment but hopefully will bring more updates :)

30hb Jun. Sudah 4 hari berlalu.

Namun, bagi Ummi dan Abi, setiap hari adalah hari lahirmu, sayang…

Kek Hari Lahir Sakeenah

Allah selamatkan kamu!!!

Acara Memotong Kek

Kek Kecil Si Comel

Slice! Slice!

Potong sini, potong sana; Tunjuk gigi, nganga-nganga :)

Sakeenah bersimpuh

Hadiah untuk Sakeenah

Sakeenah Pemandu Keretapi

Bersedia untuk choo! choo!

Sakeenah & Chek & Walid

Gembiranya dia :)

On board her Alphabet Train

Senyum lebar sambil naik Alphabet Train.

Family Bond Fever

Abi June 10th, 2010

Video Chat with Sakeenah

Google Video Chat with Sakeenah.

Perhaps Sakeenah is missing her Abi and Ummi. She had a high temperature yesterday morning. Fortunately, my parents were quick to realise it and took her to the doctor – who gave her a shot on the butt … ouch! Seeing her through Google chat was a relief. She seems as fine as ever – alhamdulillah! Just look at her – busy examining her medicine :)

A friend once told: the further apart you are from loved ones, the stronger the bonds that tie us and them together. I would say there is some truth in that :)

blank