Ini adalah kisah benar. Cukup memberi kesan kepada mereka yang sayang dan rindukan orang-orang seperti Baraa’ah. Mudah-mudahan kisah Baraa’ah menjadi inspirasi buat kita semua. Didiklah anak-anak agar menjadi insan yang mulia di sisi Allah.

[Kisah ini dipetik bulat-bulat dari emel yang saya terima. Istilah yang digunakan mungkin mengelirukan kerana berbahasa Indonesia. Walau bagaimanapun, teks masih boleh difahami. Versi bahasa Inggeris boleh didapati di sini.]

Baraa'ah - Gadis tabah yang telah hafal Al-Qur'an

Baraa'ah

 Berikut ini adalah kisah sedih gadis berumur 10 tahun yang bernama Bar`ah. Orang tua Bar’ah adalah dokter dan telah pindah ke Arab Saudi untuk mencari kehidupan yang lebih baik.Pada usia ini, Bar`ah telah menghafal seluruh Al Qur’an beriktu tajweednya , dia sangat cerdas hingga gurunya pernah mengatakan bahwa dia paling unggul untuk anak seusianya.

Dia hidup dalam keluarga kecil yang berkomitmen untuk Islam dan ajaran-ajarannya … . Suatu hari ibunya mulai merasa sakit perut yang parah dan setelah beberapa kali diperiksakan, diketahuilah bahwa ibu bar’ah menderita kanker, dan ternyata kanker ini sudah dalam keadaan stadium akhir/kronis.

Ibu Bar’ah berfikir untuk memberitahu putrinya, terutama jika ia terbangun suatu hari dan tidak menemukan ibunya di sampingnya … dan inilah ucapan ibu Bar’ah kepadanya “Bar`ah aku akan pergi ke surga di depanmu, tapi aku ingin kamu selalu membaca Al-Quran dan menghafalkannya setiap hari karena Ia akan menjadi pelindungmu kelak… “

Gadis kecil itu tidak benar-benar mengerti tentang apa yang ibunya beritahukan. Tapi dia mulai merasakan perubahan keadaan ibunya, terutama ketika ia mulai dipindahkan ke rumah sakit untuk waktu yang lama. Gadis kecil ini menggunakan waktu sepulang sekolahnya untuk menjenguk ibunya ke rumah sakit dan membaca Quran untuk ibunya sampai larut malam, sampai ayahnya datang dan membawanya pulang.

Suatu hari pihak rumah sakit memberitahu ayah Bar’ah melalui telpon bahwa kondisi istrinya itu sangat buruk dan ia perlu datang secepatnya, sehingga ayah Bar’ah menjemput Bar `ah dari sekolah dan langsung menuju ke rumah sakit. Ketika mereka tiba di depan rumah sakit ia meminta Bar’ah untuk tinggal di mobil … sehingga ia tidak akan shock jika ibunya meninggal dunia.

Ayah Bar’ah keluar dari mobil dengan berlinang air mata, ia menyeberang jalan untuk masuk rumah sakit. Tapi tiba-tiba datang sebuah mobil melaju kencang dan menabrak ayah Bar’ah dan ia meninggal seketika di depan putrinya itu…tak terbayangkan ..tangis gadis kecil ini pada saat itu…!

Tragedi Bar`ah belum selesai sampai di sini… setelah lima hari semenjak kematian ayahnya, akhirnya ibu Bar’ah meninggal dunia juga. Dan kini gadis kecil ini sendirian tanpa kedua orangtuanya. Dan oleh orangtua dari teman-teman sekolahnya, Bar’ah dihubungkan dengan kerabatnya di Mesir, sehingga kerabatnya bisa merawatnya.

Tak berapa lama tinggal di mesir gadis kecil Bar`ah mulai mengalami nyeri mirip dengan ibunya dan oleh keluarganya ia lalu di periksakan, dan setelah beberapa kali tes di dapati Bar’ah juga mengidap kanker … tapi sungguh mencengangkan kala ia di beritahu kalau ia menderita kanker….inilah perkataan Bar’ah kala itu: “Alhamdulillah, sekarang aku akan bertemu dengan kedua orang tuaku.”

Semua teman-teman dan keluarganya terkejut. Gadis kecil ini sedang menghadapi musibah yang bertubi-tubi dan dia tetap sabar dan ikhlas dengan apa yang ditetapkan Allah untuknya!…..Subhanallah….

Orang-orang mulai mendengar tentang Bar `ah dan ceritanya, dan Saudi memutuskan untuk mengurus nya … ia mengirim Bar’ah ke Inggris untuk pengobatan penyakit ini.

Salah satu saluran TV Islam (TV Al Hafiz) berhasil menghubungi gadis kecil ini dan memintanya untuk membaca Quran … dan ini adalah suara indah yang di lantunkan oleh Bar’ah …

 

Mereka (saluran TV Islam) berhasil menghubungi Bar’ah lagi sebelum ia dalam keadaan koma. Bar’ah berdoa untuk kedua orangtuanya dan menyanyikan sebuah Nasheed….

Hari-hari terlewati dan kanker mulai menyebar di seluruh tubuhnya, para dokter memutuskan untuk mengamputasi kakinya, dan ia telah bersabar dengan apa yang ditetapkan Allah baginya … tapi beberapa hari setelah operasi amputasi kakinya kanker sekarang menyebar ke otaknya, lalu oleh dokter diputuskan untuk melakukan operasi otak … dan sekarang Bar’ah berada di sebuah rumah sakit di Inggris menjalani perawatan dalam kondisi koma.Silakan berdoa untuk Bar’ah, dan untuk saudara-saudara kita di seluruh dunia…

Video Bar’ah lainnya :

Sumber: Emel yang dikirim oleh rakan sekerja, Zeldi Suryady.

Moments

Family, Life, Memories February 19th, 2009

Today’s posting brings you captured moments which were never revealed in public before. After days of being static, perhaps this will warm up my blog a bit :P

Not the type to do so, actually!

Two souls in one

With Ummi and Ayah

Husband-wife camera pose

Waiting

Naufal the alien

What was I thinking?

Funny ... Najati the Nemo

Funny niece ... wonder what she was trying to imitate?

Making faces - Naufal

Ultraman gets crushed by Pok Cik Im the monster.

Trio

Aizat & Ana

Life, Malay Blog November 23rd, 2008

“Faheem, saya ada satu rahsia … jangan bagitahu orang lain tau,” luah Aizat tiba-tiba.

Hairan lihat kerenah sahabat saya nih … apa hajat tiba-tiba nak beritahu rahsia. Waktu malam dah lewat. Tapi mukanya memang berseri … mata bersinar-sinar (kalah mata dalam cerita anime … hehe).

Saya mengangguk ingin tahu lalu menjawab: “OK Aizat … apa rahsianya?”

“Hurm … saya ada minat kat sorang perempuan nih … Faheem kenal kot … nama dia Ana,” kata Aizat.

Ana? Hati saya berbisik. Macam pernah dengar nama tu … tapi, di mana ya? Hehe … tapi malam tu tak dapat nak recall. Al-maklumlah, memang jenis payah nak ingat nama orang, tambah pulak kalau perempuan.

“Erm … Ana? Apa nama penuh dia?”

“Dia sekelas dengan Faheem … nama dia Farhaana bt Mohd Fadzil.” Wah .. hafal dah namanya!

“Erm …” (serius … tak boleh nak recall)
“…. mungkin kalau saya tengok rupa kenal kot. Apa yang Aizat suka pasal dia?”

Tersenyum Aizat. Nampaknya sahabatku nih dah dilamun cinta … sungguh … tak pernah lihat rupanya begini!

“Suka tengok muka dia … selalu senyum … suka dengar dia ketawa …”

Hehe .. itu cerita lama. Kini, mereka telah pun selamat diijab kabulkan. Tahniah buat Aizat dan Ana. Doa saya dan isteri mudah-mudahan kalian beroleh kebahagiaan berpanjangan hingga ke syurga. Moga Allah menghimpunkan segala kebaikan ke dalam rumah tangga. Semoga dikurniakan zuriat yang soleh dan solehah. Amin.

Berikut gambar semasa akad nikah dan kenduri Aizat & Ana (paparan slideshow di bawah disertai lagu nasyid). Video pun ada (format .3gp, download dan install Realplayer versi terkini), klik di sini. Maaf sangat-sangat, saiz screen memang kecil dan kurang memuaskan.

I Eye You

Food for Thought, Islam, Life, Memories September 23rd, 2008

Even after leaving IIUM, I must admit that it’s reputable charisma and unspoken charm never fail to bloom my heart with a renewed spirit and determination. Every visit that I had made was always welcomed by the sheer pleasure and essence of calm and happiness.

Sometimes I just wonder – what is it about IIUM that’s so intriguing? Despite its distinguished beauty and serene landscape, I am more than convinced that there are other factors to its attraction. Could it be the people there – where diverse cultures and races meet and pray harmoniously together? Or could it be the learning environment – where lecturers and tutors alike come into force to nurture future masterminds of Islam?

As I drove my mum’s Savvy around the campus last Friday, I could not help recalling the days I had being there. Every inch of IIUM seems to have a story to retell of its own accord. Driving pass KAED reminded me of one of the nights when Zul’s Tiara ended up in a deep ditch somewhere in the woods. When I climbed up the stairs towards KICT General Office, the air still smelt the same. The air that once lingered around me while I was a student had again filled up my lungs after almost two years – it felt refreshing (err… I guess not in the sense of breathing fresh air :P ).

“The only thing constant is change,” Dr. Fauzan once mentioned in class. That’s affirmative. There were new faces among the KICT academic staff member. It seems that most of those who had taught me and my batch have already gone abroad for study leave.

As Friday prayer time approached, I decided to leave early for the mosque. Earlier on, I met Dr. Mohiudin to get my recommendation letters (my wife and I are in progress to apply for Masters/PhD). I also requested from Dr. Adam but he was in a Senate meeting at the time. Only then did I knew that he was still the dean. Well, perhaps not all things have changed ;)

At the mosque, I could hear people reciting the Glorious Qur’an. Masya-Allah. But what I really like about that day was the khutbah. It was given by a lecturer from the department of Arabic language. The khutbah, although in Arabic, was very sound and clear in terms of pronunciation and tone. My eyes trickled – I’ve never really understood most Arabic lectures in my life, but this time it was different. The way the khatib conveyed the khutbah was really something – it was something that I should learn from and make as an inspiration to continue learning the language of the Qur’an.

blank